Ada banyak hal yang mungkin perlu didokumentasikan.
Minimal, konten pelatihan pada hari pertama ini dapat dibagi menjadi:
(1) materi,
(2) masalah-masalah dan solusinya,
(3) hal-hal unik atau spesial yang ditemukan.
Meskipun begitu, secara umum hari ini para bocah petualang aka BoLang(normalnya: peserta, hehe) berkutat pada PeDeKaTe dengan yang namanya server, khususnya si Ubuntu Server.
Secara teknis, dalam dimensi waktu, pelatihan ini bisa dibagi menjadi 4 sesi, yang rinciannya:
1) sesi 1 (pagi) 08.00 WTS sampai 11.30an
2) sesi 2 (siang, after lauch) 13.00 sampai 14.30an
3) sesi 3 (sore) 15.30 sampai 17.30an
4) sesi 4 (petang/senja[he?]) 18.00an sampai 19.00an
NB: Si "an" dipakai untuk estimasi atau pascakiraan(kalau "pra" kan sebelum ya...) dan WTS adalah Waktu Tembalang Semarang, karena sore hari bisa kelihatan malam hari, waktu normal takkan terasa saat banyak aktivitas, juga jam 00 jadi terasa seperti jam 9 malam.
Sesi 1: Pandangan Pertama
Sebelum mulai PeDeKate dengan si Server, training dibuka dengan perkenalan formal tapi santai dari satu persatu penghuni ruangan, baik yang sementara maupun yang lebih lama atau juga yang sudah kontrak, hehe. Diawali oleh pemateri utama hari ini, Mas Chandra (heh, maaf mas, kalau salah tulis, fokus materi soalnya) dan dilanjutkan para peserta termasuk penulis catatan ini (Aseptilena Ubos <- nama FB, khakha).
Setelah perkenalan yang cukup panjang ini, baru diketahui bahwa Aseptilena adalah satu-satunya peserta yang kuliah dua kali.(Astaghfirullah, duh Gusti, borose...).
Lanjut ke pra-materi training. Mas Chandra, menjelaskan silabus umum sebagai berikut.
(1) Ubuntu Server
(2) Proxmox Administration
(3) Pengembangan dan Administrasi Cloud Openstack
Selanjutnya, beliau menjelaskan beberapa hal dasar dari PeDeKaTe dengan Ubuntu Server.
Berawal dari kenalan dengan Ubuntu yang merupakan keturunan dari Debian sampai pada alasan dipakainya, yaitu:
(1) mudah untuk pemula
(2) aman, cepat dan stabil
(3) dukungan pengembang/developer baik komersial maupun komunitas
Masuk pada dasar server-nya, beliau menjelaskan bahwa:
server itu sederhananya adalah penyedia layanan;
ia punya spesifikasi minimal(seperti: Prosesor 1GHz, RAM@256MB dan Hardisk 8GB) dan standar(seperti Prosesor dual core 1,5GHz, RAM@512MB dan Hardisk 40GB){hehe, sak-tekane lan sak-elinge};
perbedaan dengan desktop: jauh lebih ringan namun lebih sulit dan kompleks atau repot karena dibandrol dengan mode teks.(haha, bersiaplah untuk menjadi kalangan tekstualis...)
Nah, pada pembahasan terkait instalasi, para peserta diberi peringatan KERAS (sebenarnya tidak juga, hanya saja harus sangat berhati-hati), yaitu untuk membiasakan backup sebelum melakukan setiap perubahan, termasuk instalasi servernya sendiri. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk antisipasi jikalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti error pada sistem dan data yang lenyap(bisa langsung dikembalikan dengan backup-nya). Karena kehilangan data itu seperti kehilanganmu, nyesek sampai sulit tuk bernapas...hiks... hiks...
Pada bagian instalasi, secara teknis dapat dilakukan dengan beberapa tahap berikut ini.
(1) Menyiapkan media instalasi, normalnya CD/DVD, USB FlashDisk atau Internet
(2) Boot ke media yang sudah siap
Namun untuk si Virtualbox(selanjutnya disebut Vbox) yang dipakai di sini, media sumber instalasinya hanya berupa file ISO yang nantinya dimuat ke media penyimpanan di Mesin Virtual dalam Vbox, lewat pengaturan pada mesin-nya.
Sebelumnya, perlu dipasang Vbox pada Komputer Utama/Laptop/Notebook yang digunakan. Praktisnya untuk memasang Vbox, dapat ditempuh beberapa cara berikut.
Buka terminal...
Ketikkan...
sudo apt-get install -y virtualbox virtualbox-ext-pack
jika diminta untuk mengetikkan password, ketik saja lalu tekan tombol "Enter".
apt-get bisa juga diganti dengan apt, untuk Ubuntu versi terbaru.(Eh, lupa, Aseptilena menggunakan Ubuntu Mate versi 16.04 di Laptop Utama)
Nah, Vbox sendiri mengharuskan adanya Mesin Virtual yang sudah diatur atau terkonfigurasi, baik "nama Mesin dan Sistem Operasi", ukuran memory (RAM) yang digunakan, Hard disk maupun jaringan; meskipun memang hal ini bisa dicapai hanya dengan "The Magic of Click and Next".
Lihat saja cuplikan berikut, jika Anda tidak percaya.
ScreenShots Pengaturan awal Vbox...
![]() |
| Tampilan awal Vbox |
![]() |
| Pengaturan Nama Mesin Virtual, setelah klik ikon "New" |
![]() |
| Pengaturan Alokasi Memory (RAM) yang diberikan ke Mesin Virtual dari RAM Fisik |
![]() |
| Pengaturan Hardisk, pembuatan hardisk virtual baru, jika sudah punya bisa memilih "Use an existing virtual hard disk drive" |
![]() |
| Pengaturan Tipe Hardisk, rekomendasinya VDI, bisa juga menggunakan VMDK jika nantinya ingin bisa dibuka menggunakan aplikasi lain seperti VMware. |
![]() |
| Alokasi Ukuran Hardisk Virtual, secara default file akan disimpan di folder/direktori home pengguna kita |
![]() |
| Setelah Mesin Virtual Baru Ditambahkan |
Secara default(bawaan), NAT(Network Address Translation) lah yang digunakan. Ini berarti bahwa interface komputer utama(bukan mesin virtual) berlaku layaknya penyedia layanan internet. Dengan kata lain, si Mesin Virtual akan berlaku layaknya klien atau pelanggan yang tidak mandiri, alias selalu bergantung pada penyedia layanan atau Komputer Utama.
![]() |
| Pengaturan Network Bawaan, NAT, direkomendasikan untuk yang masih pemula, karena lebih sedikit masalah yang nanti akan dihadapi |
Di sisi lain, terdapat pilihan pengaturan mode bridge. Mode ini menjadikan interface komputer utama bersatu dengan interface mesin virtual. Artinya Komputer Utama akan berlaku layaknya sebuah repeater atau penguat sinyal dari jaringan utama yang terhubung dengannya, sementara Mesin Virtual akan mendapatkan alamat IP yang termasuk dalam satu jaringan dengan jaringan utama.
![]() |
| Pengaturan Lanjutan untuk Network, Bridge, opsional saja. |
Kembali ke fase instalasi...(3) pengaturan wilayah - bahasa - keyboard - waktu
lebih kurang singkatnya, wilayah pilih Others - Asia - Indonesia, bahasa bisa pilih English US / Bahasa Indonesia, keyboard umumnya EN-US(English United States) dan waktu yang penting Bangkok/Jakarta alias GMT+7 biar sama dengan WIB(Disesuaikan dengan Wilayah Waktunya)
(4) ada pengaturan username & password (jika password lemah: ada notifikasi dan perlu dicentang persetujuan khusus)
(5) pengaturan penyimpanan
Pengaturan ini setidaknya punya beberapa pilihan sebagai berikut.
Otomatis, direkomendasikan bagi pemula, lebih praktis.
- normal, secara sederhana menyediakan pilihan otomatis dengan fitur instalasi standar. Pembagian hardisk praktisnya akan menjadi 1 partisi tipe ext4 untuk sistem dan 1 partisi swap untuk cadangan RAM.
- LVM, Logical Volume Management(kalau tidak salah), menyediakan pilihan otomatis dengan fitur ukuran masing-masing partisi hardisk lebih fleksibel alias bisa diubah (diperbesar atau diperkecil) nantinya.
Manual, hanya direkomendasikan untuk yang sudah berpengalaman dan minimal paham kebutuhan dasar dari partisi untuk instalasi Linux.
(6) pilihan paket
Untuk pilihan paket instalasi, secara sederhana terdapat dua kelompok, yaitu:
- minimal
Adalah pilihan bawaan dari instalasi, intinya paket ini hanya berisi software-software dasar untuk sistem Ubuntu. Walaupun begitu, untuk koneksi wifi dan LAN sudah cukup bisa diandalkan.(butuh untuk tambah-tambah paket software lain)
- extended
Adalah paket-paket lain yang bisa dipilih untuk menambah fitur atau fungsi server secara praktis. Paket-paketnya seperti Web Server dan DNS Server.
(7) boot loader
GRUB (GRand Unified Bootloader)
yes -> dual boot
no -> ubuntu server only
Memasuki Administrasi dasar, Mas Chandra membagikan beberapa hal yang cukup penting namun sederhana. Hal-hal ini meliputi manajemen user/pengguna dan manajemen file, direktori/folder. Pada manajemen user/pengguna, beliau membahas tentang user dan grup user yang secara singkat nan sederhana dapat diwakili sebagai berikut.
adduser -> perintah untuk membuat/menambah user/pengguna baru
userdel -> perintah untuk menghapus user/pengguna tertentu
usermod -> perintah untuk mengatur grup dari user/pengguna tertentu
--gid namagrup | -G namagrup
-c "komentar"
addgroup -> membuat/menambah grup user/pengguna baru
groupmod -> mengatur grup-grup user/pengguna tertentu
file-file penting...
/etc/group -> daftar grup user/pengguna dan atribut-atributnya
/etc/passwd -> penyimpanan pengaturan mode seluruh user
/etc/shadow -> penyimpanan password untuk user-user tertentu
Pada manajemen file, mas Chandra mempraktekkan lebih banyak perintah.
Berikut beberapa yang Aseptilena ingat.(Saktekane lan sakelinge, hehe)
kategori edit atau manipulasi
teks editor
nano & pico -> mudah
vim & vi -> aman
kategori pindah2
cp namalama namabackup
mv tempatlama tempatbaru
kategori jalan-jalan
cd tempat
kategori intip-intip
cat
less
more
Ada juga yang termasuk dalam kategori manajemen paket software dipraktekkan. Berikut beberapa di antaranya...
dpkg -l namapaket -> melihat apakah paket software tertentu ada di sistem atau tidak
apt
apt-get
install namapaket -> download dan memasang software dari repositori online / offline(jika ada yang lokal)
purge namapaket -> menghapus software berserta pengaturannya
update -> memperbarui database paket software yang disediakan oleh repositori
file penting:(sebenarnya ini dibahas saat sesi ke-4)
/etc/apt/sources.list -> tempat pengaturan repositori utama
format standar yang sederhana untuk merujuk ke server UGM:
deb http://repo.ugm.ac.id/ubuntu/ xenial main restricted universe multiverse
deb http://repo.ugm.ac.id/ubuntu/ xenial-security main restricted universe multiverse
deb http://repo.ugm.ac.id/ubuntu/ xenial-updates main restricted universe multiverse
Cek Spesifikasi Mesin
cat /proc/cpuinfo
-> mengetahui spesifikasi prosesor mesin
cat /proc/meminfo
-> mengetahui spesifikasi memory / RAM mesin
Pengaturan Jaringan dalam Mesin Virtual
file penting : /etc/network/interfaces
pengaturan penting:
auto nama_interface(bisa eth0 atau enp3s0)
iface nama_interface dhcp
Jika diubah ke manual atau static
auto nama_interface
iface nama_interface static
address 10.10.10.1
netmask 255.255.255.0
Untuk menikmati pengaturan baru, dapat digunakan perintah berikut.
ifdown nama_interface
ifup nama_interface
ifdown -> mematikan
ifup -> mengaktifkan / menyalakan
Pengaturan DNS
untuk internet lebih responsif
file penting : /etc/resolv.conf
menambahkan di baris baru...
nameserver 8.8.8.8
bisa juga ditambahkan dengan
nameserver 8.8.4.4
Perhatian!!!
itu hanya berlaku sementara, karena setelah restart penambahan tadi akan langsung hilang. Hal ini disebabkan oleh layanan Resolvconf yang men-generate secara otomatis DNS, bawaannya kosong.
Untuk mengatasi ini, Aseptilena menemukan solusi jitu ala system enthusiasm(agak beda sama kacamata networkers yang cenderung menambahkan di /etc/network/interfaces pada pengaturan interfacenya).
Caranya adalah dengan mengubah konten file:
/etc/resolvconf/resolvconf.d/head
Sama dengan edit file resolv.conf, teks yang ditambahkan juga sama.
Sesi #2 : Pandangan Kedua, awas Hati-Hati...^_^
Mengubah hostname
format standar di shell...
namauser@hostname$~
cara mengubah:
nano /etc/hostname
echo "hostname_baru" /etc/hostname
maka
namauser@hostname_baru$~
Mengubah Mesin Virtual agar Fokus di Lokal/Komputer dan Mesin Virtual
Penggunaan Host Only Adapter pada pengaturan Network di Mesin Virtual.
Persyaratan yang harus dipenuhi sebelum ini:
Menambahkan di Pengaturan Vbox, Host Only Adapter biasanya vboxnet0.
vboxnet0 tersebut mewakili komputer utama yang menjadi klien dari server Mesin Virtual.
vboxnet0 tersebut diatur dengan
IP Address 10.10.10.2
dengan syarat
IP Address interface di server Mesin Virtual 10.10.10.1
Jika pengaturan sudah benar, maka mesin akan bisa
menghubungi di Komputer Utama, indikatornya:
ping 10.10.10.2
^ membuahkah hasil positif, artinya ada respon dari IP itu alias vboxnet0 yang mewakili Komputer Utama.
Adapun Komputer Utama dapat menghubungi mesin dengan indikator:
ping 10.10.10.1
^ membuahkah hasil positif, artinya ada respon dari IP itu alias Mesin Virtual.
Sesi #3 : Pandangan Ketiga, jangan lama-lama, nanti jadi dosa...
Walaupun demikian(di sesi kedua), masalah timbul saat waktu medekati shalat ashar. Mesin Virtual tidak bisa menghubungi IP Address asli si Komputer Utama yang terhubung ke wifi dan internet.
Ini juga berarti bahwa si mesin tak bisa berinteraksi dengan dunia luar, ia tidak bisa update paket software ataupun sekedar akses internet.
Untuk menyelesaikan masalah ini, terdapat dua tahapan penting.
(1) Menambahkan gateway pada pengaturan /etc/network/interfaces di Mesin Virtual. gateway yang digunakan adalah 10.10.10.2 karena itulah jalur utama menuju Komputer Utama, Wifi dan Internet.
(2) Mengekseskusi beberapa perintah berikut di Shell Komputer Utama:
untuk mengizinkan internet sharing dari Komputer Utama
script untuk konek vm ke wifi laptop atau internet, dengan kondisi Host Only Adapter
iptables -A FORWARD -i wlan0 -o vboxnet0 -s 10.10.10.0/24 -m conntrack --ctstate NEW -j ACCEPT
iptables -A FORWARD -m conntrack --ctstate ESTABLISHED,RELATED -j ACCEPT
iptables -t nat -A POSTROUTING -j MASQUERADE
PERINTAH2 ITU AKAN DIJELASKAN LEBIH DETIL di HARI KEDUA...
ping google.com -c 5 -l 10.10.10.2
Seharusnya normal dan ketika dites dengan lynx(browser tipe teks) menghasilkan tampilan web. Bisa juga dengan akses lewat Komputer Utama dengan alamat 10.10.10.1. Tapi memang, ada salah satu kawan yang sudah benar semua pengaturannya, namun belum bisa mendapatkan hasil positif. Ia pakai SO jendela 8. Semoga bisa besok solved...
Sesi #4 : Pandangan Keempat, waduh Overload!
Remote atau Operasi via komputer lain
telnet -> port 23
ssh -> port 22 -> lebih aman -> kriptografi
pasang openssh-server
sudo apt install openssh-server
jalankan server ssh
sudo service ssh start
Biasanya akan diminta otentikasi password, tulis saja password user-nya...
Maka
Komputer Utama akan bisa login secara remote dengan ssh
sudo ssh namauserdimesin@10.10.10.1
masukkan password user di mesin
Oke, bisa login remote...
Apache Web Server
Secara sederhana, apache web server dapat dipasang dengan perintah berikut.
sudo apt install apache2
untuk menjalankannya...
sudo service apache2 start
untuk mengecek status dan contoh layanannya...
Membuka lynx atau web browser biasa dan mengakses ke 10.10.10.1
tempat penting pada apache2
/var/www/html/
file index.html di situ adalah halaman utama saat mengakses 10.10.10.1
Untuk mengganti tampilan website di server, bisa mengubah file index.html atau menggantinya dengan yang lain.










mantaaaap gan :)
ReplyDelete